LAPORAN KIMIA
Disusun Oleh :
1.
Astri Maulida
2.
Bunga Rivani S
3.
Egi Patria
4.
Firas
Farisyghiathysa
5.
Jonathan
6.
Ulfah Maisyaroh
7.
Yudi Madya
XII IPA-1
SMAN 6 Bandung
JL.
Pasirkaliki no.51 telp.022-6011309
BANDUNG
2013-2014
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam
kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai zat yang sukar digolongkan sebagai zat
biasa, zat cair atau gas. Zat-zat ini dalam ilmu kimia dinamakan koloid.
Contohnya antara lain susu, tinta, cat, sabun, kanji, nugget, minyak rambut
bahkan udara berdebu termasuk sistem koloid.
Kimia
koloid mempunyai peranan yang besar dalam kehidupan dan penghidupan manusia.
Proses di alam
sekitar kebanyakan berhubungan dengan sistem koloid. Protoplasma dalam sel
makhluk hidup merupakan suatu koloid, sehingga kimia koloid diperlukan untuk
menerangkan reaksi-reaksi dalam sel. Tanah terdiri dari bahan-bahan koloid dan
pemahaman tentang koloid sangat membantu dalam meningkatkan kesuburan lahan.
Sistem
koloid sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, hampir semua
bahan pangan mengandung partikel dengan ukuran koloid, seperti protein,
karbohidrat, dan lemak. Emulsi seperti susu juga termasuk koloid. Dalam bidang
farmasi, kebanyakan produknya juga berupa koloid, misalnya krim, salep adalah
emulsi. Dalam industri cat, semen, dan industri karet untuk membuat ban
semuanya melibatkan sistem koloid. Semua bentuk seperti spray untuk serangga,
cat, hair spray dan sebagainya adalah juga koloid. Dalam bidang pertanian,
tanah juga dapat digolongkan sebagai koloid. Proses seperti memutihkan,
menghilangkan bau, menyamak, mewarnai, pemurnian, melibatkan adsorpsi pada
permukaan partikel koloid dan karena itu pemahaman sifat-sifat koloid sangat
penting. Jadi, terlihat betapa pentingnya koloid dalam kehidupan manusia. Oleh
karena itu, perlu diadakan percobaan tentang kimia koloid yang akan dibahas
pada laporan ini.
Percobaan
kimia koloid dalam laporan ini meliputi koagulasi yaitu peristiwa pengendapan
partikel koloid; dispersi yaitu memecah butir-butir yang lebih besar menjadi
butir-butir seukuran koloid; emulsi yaitu medium pendispersi dan medium
terdispersi merupakan cairan yang tidak saling bercampur; koloid pelindung
dengan cara menambahkan zat, seperti gelatin untuk mencegah pengendapan
sehingga koloid dapat terbentuk; adsorpsi yaitu penyerapan suatu yang melekat
pada permukaan.
a. Bagaimana
cara pembuatan koloid ?
b. Bagaimana
cara pembuatan nugget ?
c. Apa saja sifat - sifat dari koloid yang terkandung dalam nugget ?
a. Untuk mengetahui cara pembuatan koloid.
b. Untuk mengetahui cara pembuatan
nugget.
c. Untuk mengetahui sifat- sifat dari koloid
yang terkandung dalam nugget.
Untuk mendapatkan data yang kami butuhkan dalam penyusunan Laporan Hasil
Percobaan ini, kami menggunakan metode sebagai berikut :
1.
Browsing
Internet
Yaitu dengan cara mengambil data dari internet yang berisi keterangan
tentang sistem koloid dan cara pembuatan nugget yang
penulis perlukan dalam penyusunan laporan hasil percobaan ini.
2.
Observasi
Yaitu dengan cara melakukan praktek langsung pembuatan nugget setelah
mendapatkan berbagai referensi.
Untuk memberikan gambaran tentang koloid khususnya kepada pelajar. Menambah
wawasan tentang koloid dan sifat-sifat koloid, terutama kaitannya dengan produk makanan
sehari-hari seperti nugget.
BAB II
TEORI DASAR
TEORI DASAR
Pengertian
Koloid
Thomas
Graham (1805-1809), dalam penyelidikannya mengenai difusi larutan melalui
membran telah membedakan koloid dengan kristaloid. Dari pengamatannya ternyata
partikel zat dalam larutan ada yang berfungsi cepat dan lambat. Zat-zat yang
mudah terdifusi umumnya membentuk kristal dalam keadaan padat, sehingga ia
menyebutnya kristaloid. Contohnya NaCl dalam air. Istilah ini tidak populer
karena ada zat yang bukan kristal tetapi mudah berdifusi misalnya HCl dan HNO3.
Sedangkan zat-zat yang sukar berdifusi seperti lem, agar-agar, putih telur
dinamakan koloid. (Bahasa Yunani kolla = perekat)
Menurut
Graham kecepatan difusi suatu zat dipengaruhi oleh massa partikelnya. Makin
besar massa partikel makin kecil kecepatan difusinya. Ada hubungan antara massa
dan ukuran partikel. Bila massa partikel besar berarti ukurannya besar,
demikian sebaliknya.
Salah
satu perbedaan nyata antara koloid dan kristaloid adalah ukuran partikelnya.
Berdasarkan ukuran partikel ini, campuran zat dapat dibedakan menjadi tiga,
yaitu:
1. Kristarloid
(larutan sejati)
Diameter partikelnya lebih kecil
dari 1 nm (10-9m)
2. Koloid
Diameter partikelnya antara 1 nm –
100 nm
3.
Suspensi
Diameter partikelnya lebih besar
dari 100 nm
Ukuran
partikel larutan sangat kecil, sehingga tidak dapat diamati oleh mikroskop, dan
dapat melalui kertas saring maupun membran. Partikel koloid ukurannya terletak
antara larutan dan suspensi, sehingga masih cukup kecil nutuk menembus kertas
saring biasa, tetapi cukup besar untuk melewati membran atau filter ultra.
Berbeda dengan larutan, partikel koloid dapat terlihat dengan mikroskop ultra.
Perbedaan
antara larutan, koloid dan suspensi
No.
|
Jenis Perbedaan
|
Larutan (kristaloid)
|
Koloid
|
Suspensi
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
|
Diameter
partikel
Fasa
Penyaringan:
-
Biasa
-
Membran
-
Ultra
Gerak
Brown
Efek
Tyndall
Pengendapan:
-
Gaya
gravitasi
-
Sentifuge
Contoh:
|
< 1 nm
Satu fasa
Lewat
Lewat
Lewat
Tak nampak
Tak nampak
Tidak
Tidak
Larutan garam
|
1 nm – 100 nm
Dua fasa
Lewat
Tertahan
Tertahan
Nampak
Nampak
Mengendap
Mengendap
Tinta
|
> 100 nm
Dua fasa
Tertahan
Tertahan
Tertahan
Nampak
Nampak
Mengendap
Mengendap
Lumpur
|
Tabel
klasifikasi sistem koloid
Jenis sistem
|
Fase Terdispersi (berukuran koloid)
|
Fase Pendispersi
|
Contoh
|
Busa
Busa
padat
Aerosol
cair
Emulsi
Emulsi
padat
Aerosol
padat
Sol
(cair)
Sol
padat
|
Gas
Gas
Cairan
Cairan
Cairan
Padat
Padat
Padat
|
Cairan
Padat
Gas
Cairan
Padat
Gas
Cairan
Padat
|
Busa
sabun
Polistirena,
foam spons
Spray
serangga
Susu,
kecap
Margarin
Debu,
asap
Pasta
gigi, suspensi tanah liat , nugget
Gelas
bewarna
|
Sifat-sifat
Koloid
Koloid
mempunyai beberapa sifat yang berbeda dengan larutan. Sifat khusus koloid
timbul akibat ukuran partikelnya lebih besar daripada larutan. Sifat-sifat
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sifat Fisika
Sifat-sifat fisika koloid
berbeda-beda tergantung jenisnya. Pada koloid hidrofob sifat-sifat seperti
rapatan, tegangan muka dan viskositas hampir sama dengan medium pendispersinya.
Sedangkan koloid hidrofil karena terjadi hidrasi. Sifat-sifat fisikanya sangat
berbeda dengan mediumnya. Viskositasnya lebih besar dan tegangan mukanya lebih
kecil.
2. Sifat Koligatif
Suatu koloid dalam medium cair
juga mempunyai sifat koligatif. Sifat ini hanya bergantung pada jumlah partikel
koloid bukan pada jenisnya. Sifat-sifat koligatif koloid umumnya lebih rendah
daripada larutan sejati dengan jumlah partikel yang sama. Sifat koligatif
berguna untuk menghitung konsentrasi atau jumlah partikel koloid. Kecuali
pengukuran tekanan osmosa, dipakai untuk menetapkan berat molekul rata-rata
koloid makromolekul.
3. Sifat Optis
Pada tahun 1869, Tyndall
menemukan bahwa apabila suatu berkas cahaya dilalukan pada larutan koloid, maka
berkas cahaya tadi akan tampak. Tetapi apabila berkas cahaya yang sama
dilakukan pada larutan sejati, berkas cahaya tadi tidak kelihatan. Efek ini
dikenal sebagai efek Tyndall.
4. Sifat Kinetik
Selain menunjukkan efek
Tyndall, partikel koloid bila diamati dibawah mikroskop ultra nampak
sebagai bintik-bintik bercahaya yang selalu bergerak secara acak dengan jalan
berliku-liku. Gerakan acak partikel koloid dalam suatu medium pendispersi ini
disebut gerakan Brown.
Partikel zat terlarut akan
mendifusi dari larutan yang konsentrasinya tinggi ke daerah yang konsentrasinya
lebih rendah. Difusi erat kaitannya dengan gerakan Brown, sehingga dapat
dianggap molekul-molekul atau partikel-partikel koloid mendifusi karena gerakan
Brown.
Partikel-partikel koloid
mempunyai kecenderungan untuk mengendap karena pengaruh gravitasi bumi. Hal
tersebut bergantung pada rapat massa partikel terhadap mediumnya. Jika rapat
massa partikel lebih besar dari medium suspensinya, maka partikel tersebut akan
mengendap. Sebaliknya bila rapat massanya lebih kecil akan mengapung.
5. Sifat Listrik
Permukaan partikel koloid
mempunyai muatan listrik disebabkan terjadinya ionisasi atau penyerapan ion-ion
dalam larutan. Akibatnya partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik.
Bergeraknya partikel-partikel koloid oleh pengaruh medan listrik ini disebut
elektroforesis.
6. Koagulasi
Suatu koloid bila dibiarkan dalam
waktu tertentu akan tergantung oleh gaya gravitasi bumi, sehingga antara
partikel dapat saling bergabung membentuk gumpalan yang akan mengendap didasar
wadah. Peristiwa pengendapan atau penggumpalan partikel-partikel koloid ini
disebut koagulasi.
7. Adsorpsi
Partikel koloid mempunyai
permukaan luas, sehingga mempunyai daya adsorpsi yang besar. Adsorpsi adalah
peristiwa penyerapan suatu zat, ion atau molekul yang melekat pada permukaan.
Sedangkan bila penyerapan sampai ke bawah permukaan disebut absorpsi. Absorpsi
adalah proses penyerapan oleh suatu benda baik berupa padatan atau cairan yang
langsung keseluruh bagian benda itu.
Beberapa
Macam Koloid
1. Sol
Sol adalah dispersi koloid dimana
partikel padat terdispersi dalam cairan. Sol dibagi menjadi dua, yaitu:
a.
Sol
liofil
Pada sel liofil partikel-partikel
padat akan menyerap molekul cairan (suka pelarut). Jika pelarutnya air disebut
sol hidrofil.
b.
Sol
liofob
Pada sel liofob partikel-partikel
padat tidak menyerap molekul cairan (tidak suka pelarut). Jika pelarutnya air disebut
hidrofob.
Pembuatan
sol
- Cara dispersi
Dilakukan dengan memecah atau
menghaluskan butir-butir yang lebih besar (suspensi) menjadi butir-butir yang
lebih kecil sesuai ukuran koloid.
- Cara kondensasi
Pembuatan koloid dengan mengubah partikel-partikel
kecil (larutan) menjadi partikel besar berukuran koloid.
- Pertukaran pelarut
Suatu koloid dibuat dengan
menukar atau menambahkan pelarut lain ke dalam larutan. Agar terbentuk koloid
zat terlarut harus tidak larut dalam pelarut yang ditambahkan dan kedua pelarut
harus bercampur sempurna.
- Pendinginan berlebih
Suatu campuran yang terdiri dari
pelarut air dan organik didinginkan, sehingga salah satu komponennya dapat
membeku membentuk koloid.
2. Emulsi
Emulsi
adalah dispersi koloid dimana zat terdispersi dan medium pendispersi merupakan
cairan yang tidak saling bercampur. Agar terjadi suatu campuran koloid, maka
harus ditambahkan suatu bahan yang disebut zat pengemulsi atau emulgator.
3. Gel
Gel
adalah sol liofil berbentuk setengah padat. gel ini dibagi dua yaitu gek
elastis dan non elastis.
-
Gel
elastis (kenyal)
Gel ini
setelah dihilangkan airnya (didehidrasi) dapat dibentuk kembali menjadi gel
dengan penambahan air. Gel kenyal dibuat dengan melarutkan sel liofil dalam aor
panas. Setelah dingin akan terbentuk gel kenyal.
-
Gel non
elastis (tak kenyal)
Setelah
didehidrasi gel ini tidak dapat diubah menjadi gel kembali dengan penambahan
air. Dehidrasi sel ini membentuk bubuk. Gel tak kenyal dapat diperoleh dengan
mencampurkan larutan garam silikat dengan HCl.
Pemurnian
Koloid
1. Dialisis
Dialisis
adalah proses pemurnian atau penyaringan koloid dari ion-ion penggangu dengan
menggunakan membran yang bersifat selektif.
2. Elektrodialisis
Elektrolisis
adalah proses pemurnian koloid dengan memaksa ion-ion pengganggu melewati
pori-pori semipermeabel dengan bantuan medan listrik.
3. Ultrafiltrasi
Ultrafiltrasi
adalah pemurnian koloid dengan menyaring koloid menggunakan penyaring khusus dari
membran. Untuk mempercepat proses penyaringan biasanya digunakan tekanan (pompa
vakum). Pompa vakum digunakan untuk mempercepat suatu proses penyaringan koloid
yang susah disaring dengan penyaring biasa atau memerlukan waktu yang lama jika
dengan menggunakan penyaring biasa, misalnya suatu koloid berbentuk gel.
(Yazid, 2005)
BAB
III
METODE PENELITIAN
METODE PENELITIAN
3.1. Alat dan Bahan
- 500 gram daging ayam, giling/ cincang halus
- minyak goreng
- 3 lembar roti tawar tanpa pinggir
- penyedap rasa ayam
- air matang
- 1 sdt garam
- 2 butir telur
- 3 siung bawang putih, haluskan
- 2 butir telur, kocok lepas
- 150 gram tepung roti
- 80 gram tepung maizena
- Rendam roti tawar dalam air hingga lunak lalu peras dan campur dengan daging ayam, bawang putih halus, bumbu dan telur. Aduk hingga rata.
- Olesi loyang dengan minyak goreng, lalu masukkan adonan tersebut secara merata ke dalam loyang.
- Kukus adonan selama 45 menit lalu angkat dan tunggu hingga dingin.
- Setelah adonan cukup dingin, potong dengan bentuk sesuai selera dan elupkan ke dalam telur lalu gulingkan ke dalam tepung roti.
- Simpan nugget ayam yang telah anda buat dalam freezer. Saat akan disajikan, goreng nugget menggunakan minyak goreng yang telah dipanaskan hingga kuning keemasan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Meneliti
wujud dari bahan yang diperlukan untuk membuat nugget dan menemukan kaitannya
dengan sistem koloid. Wujud awal dari daging maupun roti adalah padat. Setelah
dipotong dan dihaluskan maka bentuknya menjadi lunak. Dan maka tidak lain itu
dinamakan proses dispersi. Lalu, tepung yang berwujud padat dicampurkan dengan
air akan berubah wujud menjadi gumpalan padat lunak
.
Jika
kita campurkan susu (misalnya, susu instan) dengan air, ternyata susu “larut”
tetapi “larutan” itu tidak bening melainkan keruh. Jika didiamkan, campuran itu
tidak memisah dan juga tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan (hasil
penyaringan tetap keruh). Secara makroskopis campuran ini tampak homogen. Akan
tetapi, jika diamati dengan mikroskop ultra ternyata masih dapat dibedakan
partikel-partikel lemak susu yang tersebar di dalam air. Campuran seperti
inilah yang disebut koloid. Jika adonan
kita saring maka , daging , roti , dan komponen lainnya tidak akan terpisah
dari air .
Setelah
melakukan pengamatan,didapatkan bahwa mencampurkan adonan dengan sedikit air,
lalu mengaduknya merupakan proses pembuatan koloid. Sedangkan kegunaan telur
adalah sebagai koloid pelindung dimana agar tidak bercampur dengan tepung roti
di bagian luar.
Lampiran
PENUTUP
Kesimpulan
-Komponen-komponen yang
terkandung dalam nugget termasuk bahan penyusunnya merupakan bahan yang
memiliki sifat koloid seperti susu dan roti.
-Dalam pembuatan nugget,
termasuk didalamnya mengalami proses dispersi. Seperti perendaman roti menjadi
bubur roti dan pemotongan daging ayam dari bentuk yang kompleks menjadi
sederhana.
-Nugget termasuk koloid
cairan dalam padat, karena nugget setelah dikukus dan digoreng akan berbentuk
padat, tetapi sebelumnya nugget berbentuk adonan cair.
DAFTAR
PUSTAKA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar